Ambon. Jejakberita, Com — Bukan laporan di atas meja yang menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui persoalan warga binaan. Kepala Lapas Perempuan Kelas III Ambon, Hesta Van Harling, memilih turun langsung ke kamar hunian dan mendengarkan cerita warga binaan dari dekat.
Hesta mendatangi kamar-kamar hunian warga binaan pada Selasa (8/9). Didampingi Kasubsi Kamtib dan Komandan Jaga, ia tidak hanya memberikan arahan terkait kedisiplinan dan pembinaan, tetapi juga membuka ruang komunikasi bagi warga binaan untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
“Saya hadir bukan hanya sebagai pimpinan. Saat masuk ke kamar-kamar mereka, saya ingin hadir sebagai teman dan saudara. Saya ingin mereka merasa nyaman untuk bercerita dan menyampaikan apa yang menjadi persoalan mereka,” kata Hesta.
Pendekatan langsung tersebut membuat komunikasi antara pimpinan dan warga binaan berlangsung lebih terbuka. Sejumlah persoalan yang sebelumnya belum tersampaikan secara langsung akhirnya muncul dalam pertemuan tersebut.
Salah satunya, seorang tahanan menyampaikan kesulitan dalam berkomunikasi untuk memperoleh data maupun berkas yang dibutuhkan dalam proses persidangan.
Bagi Hesta, cerita yang disampaikan warga binaan tidak sekadar menjadi keluhan. Setiap persoalan menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian mana dari pelayanan maupun pembinaan yang masih perlu diperbaiki.
“Kalau kita hanya menunggu mereka datang dan menyampaikan keluhan, mungkin ada banyak hal yang tidak pernah kita ketahui. Ketika kita datang dan mendengarkan langsung, kita bisa melihat persoalan dengan lebih utuh,” ujarnya.
Menurut Hesta, pembinaan di dalam lapas tidak cukup hanya dengan menerapkan aturan dan kedisiplinan. Hubungan komunikasi, kepercayaan, serta kepedulian juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan.
“Pembinaan bukan hanya tentang mengarahkan. Pembinaan adalah tentang hadir, mendengar, memahami dan peduli,” tegasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Lapas Perempuan Kelas III Ambon berupaya membangun pola pembinaan yang lebih humanis. Warga binaan tidak hanya diarahkan untuk memperbaiki diri selama menjalani masa pidana, tetapi juga diberikan ruang untuk menyampaikan persoalan dan mendapatkan perhatian atas kebutuhan mereka.
Langkah turun langsung ke kamar hunian itu juga menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi yang lebih dekat antara pimpinan dan warga binaan.
Sebab, tidak semua persoalan tercatat dalam laporan dan tidak semua keluhan mudah disampaikan dalam forum resmi. Terkadang, seorang pemimpin harus turun langsung, mendekat, dan mendengarkan agar persoalan yang selama ini tersembunyi dapat ditemukan dan ditindaklanjuti.
Lapas Perempuan Ambon
Pembinaan Bermartabat, Perempuan Berdaya.
(JB-01)






