Deputi BKKBN Tinjau Langsung Penanganan Stunting di Ambon,  Anak Berisiko Dapat Bantuan

AMBON. Jejakberita, Com — Penanganan stunting di Kota Ambon mendapat perhatian langsung dari pemerintah pusat. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/ BKKBN, Dr. Bonivasius Prasetya Ichtiarto, S.Si., M.Eng., turun langsung meninjau pelaksanaan program pencegahan stunting sekaligus menyerahkan bantuan kepada delapan anak yang masuk kategori berisiko stunting di Negeri Passo dan Desa Nania, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Rabu (2/9/2026).

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan program yang telah disepakati di tingkat pusat benar-benar berjalan di lapangan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bonivasius mengatakan, hasil peninjauan menunjukkan program pencegahan stunting di Kota Ambon berjalan dengan baik. Menurutnya, kondisi tersebut tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah daerah, BKKBN, Tim Penggerak PKK, kader Posyandu dan masyarakat.

“Kami dari pusat ingin melihat apakah program ini berjalan tidak saja di lapangan secara langsung. Ternyata memang berjalan dengan baik dan lancar,” kata Bonivasius usai kegiatan.

Ia menilai, keterlibatan berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam menjalankan program pencegahan stunting. Sebab, persoalan stunting tidak mungkin diselesaikan hanya dengan mengandalkan program pemerintah.

Program Genting Butuh Partisipasi Semua Pihak

Bonivasius menjelaskan, salah satu pendekatan yang didorong pemerintah adalah Program Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting). Program tersebut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam membantu keluarga yang memiliki anak berisiko stunting.

“Program Genting ini bukan dari pemerintah saja, tetapi juga partisipasi semua orang. Semua orang bisa ikut membantu menurunkan bahkan menghilangkan stunting,” ujarnya.

Menurutnya, bantuan yang diberikan kepada delapan keluarga di Passo dan Nania menjadi salah satu contoh nyata bagaimana kepedulian masyarakat dapat dikolaborasikan dengan program pemerintah.

Ia mengapresiasi peran Tim Penggerak PKK Kota Ambon yang ikut bergerak membantu masyarakat tanpa semata-mata bergantung pada anggaran pemerintah daerah.

“Ini salah satu contoh bagaimana Tim Penggerak PKK, yang notabene bukan mengambil anggaran dari APBD, tetapi kelompok masyarakat. Ada ibu-ibu PKK, pegawai dan lainnya yang ikut menyumbang,” katanya.

Deputi BKKBN Ingatkan Stunting Bisa Muncul Kembali

Bonivasius mengingatkan seluruh pihak agar tidak cepat merasa puas hanya karena angka stunting mengalami penurunan. Menurutnya, pencegahan stunting harus dilakukan secara terus-menerus karena anak yang lahir setiap tahun tetap membutuhkan perhatian.

“Jangan sampai kita berpikir, ini selesai sekarang, sudah turun, angka stuntingnya nol. Tidak. Muncul lagi anak yang baru lahir, sehingga harus dijaga terus,” tegasnya.

Ia menjelaskan, anak yang lahir dalam kondisi sehat tetap harus mendapatkan perhatian terhadap kesehatan dan asupan gizinya. Kondisi anak dapat berubah apabila kemudian mengalami gangguan kesehatan maupun kekurangan asupan makanan.

“Anak lahir sehat, dua tahun sehat, tetapi karena terserang penyakit atau makannya tidak baik, pertumbuhannya bisa terganggu. Karena itu program ini harus terus-menerus dijaga,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan bahwa pencegahan stunting bukan pekerjaan sesaat, melainkan gerakan berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan pemerintah dan masyarakat.

Pastikan MOU Tak Berhenti di Atas Kertas

Dalam kunjungan tersebut, Bonivasius juga memastikan kerja sama antara pemerintah dan Tim Penggerak PKK yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman atau MOU di tingkat pusat benar-benar diterapkan hingga daerah.

“Kami punya MOU antara kementerian dengan Tim PKK di tingkat pusat. Sebenarnya kami ingin mengecek apakah itu hanya MOU saja atau di lapangan berjalan,” ungkapnya.

Dari hasil peninjauan di Kota Ambon, ia memberikan apresiasi karena kerja sama tersebut dinilai telah diterjemahkan dalam kegiatan nyata di tengah masyarakat.

“Saya baru melihat di Kota Ambon. Saya tidak tahu di kota atau kabupaten lain, tetapi di Kota Ambon perjalanannya baik,” ujarnya.

Bonivasius menegaskan, penilaiannya bukan hanya berdasarkan kegiatan saat dirinya datang ke Ambon. Ia mengaku telah berdiskusi dengan pihak terkait dan memperoleh informasi bahwa program tersebut tetap berjalan secara berkelanjutan.

“Artinya, MOU yang ada di pusat itu dilaksanakan juga di Kota Ambon,” katanya.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut menggerakkan program pencegahan stunting di Kota Ambon.

“Kami berterima kasih kepada penggerak PKK di Kota Ambon yang betul-betul menjalankan program ini, tidak hanya sekadar karena MOU, tetapi betul-betul untuk kepentingan masyarakat,” pungkasnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua TP PKK Kota Ambon Lisa Wattimena, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku Edi Setiawan, Kepala DPPKB Kota Ambon Welly Patty, Camat Baguala Lenny Lekatompessy, serta para kader Posyandu Negeri Passo dan Desa Nania. (JB-01)

Pos terkait