Ambon. Jejakberita, Com — Delapan puluh satu tahun perjalanan Provinsi Maluku bukan hanya tentang merayakan capaian, tetapi juga tentang menatap persoalan yang masih menyentuh kehidupan banyak keluarga.
Di balik kemajuan yang telah diraih, masih ada pekerjaan rumah besar yang harus diselesaikan bersama, mulai dari stunting, fatherless, kesepian pada lanjut usia (lansia), hingga perkawinan anak.
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, S.Si., M.Sc., MSE., usai menghadiri Upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Provinsi Maluku di Lapangan Merdeka Ambon, Rabu (19/8/2026).
Edi mengatakan momentum HUT ke-81 Provinsi Maluku harus menjadi ruang untuk melakukan refleksi terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat.
“Kalau dari sisi kami masih banyak PR. Artinya kita masih belum merdeka dari stunting, belum merdeka dari fatherless, belum merdeka dari kesepian lansia, belum merdeka dari perkawinan anak,” kata Edi saat diwawancarai media ini.
Menurutnya, berbagai capaian pembangunan yang telah diraih Provinsi Maluku patut diapresiasi. Namun, empat persoalan tersebut masih membutuhkan perhatian serius dan harus menjadi prioritas bersama.
“Jadi dalam 81 tahun kemerdekaan dan ulang tahun Provinsi ke-81 harus kita maknai dengan refleksi bahwa PR kita masih banyak,” ujarnya.
Edi menegaskan BKKBN siap memperkuat kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Maluku serta pemerintah kabupaten dan kota untuk menangani persoalan kependudukan dan keluarga.
Ia menyebut BKKBN juga telah menyalurkan dukungan melalui Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) kepada pemerintah kabupaten dan kota. Dana tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama untuk mendukung upaya percepatan penurunan stunting.
“Kita juga sudah punya transfer dana BOKB ke pemerintah kabupaten kota. Harapannya itu bisa dimanfaatkan secara optimal, khususnya untuk stunting,” jelasnya.
Selain pemerintah, Edi mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk mengambil bagian dalam upaya pencegahan stunting melalui gerakan orang tua asuh cegah stunting.
Menurut dia, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu lembaga atau pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat agar intervensi yang dilakukan dapat berjalan lebih kuat dan berkelanjutan.
“Kita juga mengajak kepada seluruh stakeholder untuk ikut ambil bagian dalam gerakan orang tua asuh cegah stunting, karena tadi kita belum sepenuhnya merdeka,” katanya.
Edi mengakui Provinsi Maluku masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Namun, ia optimistis berbagai persoalan tersebut dapat diatasi apabila seluruh pihak membangun kolaborasi yang kuat.
“Provinsi Maluku masih punya banyak PR untuk kita sama-sama atasi. Tapi kami percaya dengan kolaborasi pentahelik yang kuat, penurunan stunting di Provinsi Maluku akan segera bisa kita capai,” pungkasnya. (JB-01)






