AMBON. Jejakberita, Com – Rendahnya literasi masyarakat terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) masih menjadi tantangan besar bagi BPJS Kesehatan.
Padahal, program yang telah berjalan lebih dari satu dekade itu dirancang untuk menjamin seluruh warga Indonesia memperoleh akses layanan kesehatan yang layak. Karena itu, insan pers dinilai memiliki peran strategis dalam membangun pemahaman publik agar tidak lagi keliru memandang BPJS Kesehatan.
Pesan tersebut disampaikan Deputi Direksi Wilayah IX BPJS Kesehatan, Asyraf Mursalina, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Media Gathering bersama insan pers di Kota Ambon, Kamis (25/6/2026).
Asyraf menjelaskan, BPJS Kesehatan Wilayah IX membawahi empat provinsi, yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Maluku, dengan total 11 kantor cabang. Khusus di Provinsi Maluku, pelayanan dikelola melalui satu kantor cabang yang berkedudukan di Ambon.
Dalam pemaparannya, Asyraf menekankan bahwa tantangan terbesar pemerintah dalam menjalankan berbagai program, termasuk JKN, bukan hanya pada aspek kebijakan, tetapi juga rendahnya tingkat literasi masyarakat.
“Isu terbesar dari program apa pun yang dijalankan pemerintah ketika sampai ke masyarakat adalah literasi. Banyak masyarakat baru mencari tahu BPJS Kesehatan ketika sudah berada di rumah sakit. Padahal program ini sudah berjalan lebih dari 11 tahun,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap prosedur BPJS Kesehatan rumit karena minimnya pemahaman terhadap mekanisme pelayanan yang sebenarnya.
Oleh sebab itu, BPJS Kesehatan menggandeng dua kelompok yang dinilai memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik, yakni media massa dan kalangan perguruan tinggi.
“Aspek literasi inilah yang harus kita bangun bersama. Media memiliki kekuatan membentuk cara berpikir masyarakat. Karena itu kami berharap rekan-rekan wartawan memahami secara utuh konsep JKN sehingga informasi yang disampaikan kepada publik benar dan tidak menimbulkan kesalahpahaman,” katanya.
Asyraf juga memperkenalkan budaya kerja BPJS Kesehatan yang berlandaskan empat nilai utama, yaitu integritas, pelayanan prima, kolaborasi, dan inovasi.
Ia menjelaskan, integritas menjadi fondasi utama karena BPJS Kesehatan mengelola dana amanah masyarakat. Pelayanan prima merupakan komitmen sebagai penyelenggara layanan publik, sementara kolaborasi menjadi kunci keberhasilan karena pelayanan kesehatan tidak dapat berjalan tanpa dukungan fasilitas kesehatan sebagai mitra BPJS Kesehatan.
“Pelayanan publik selalu menuntut perbaikan. Hari ini sudah baik, besok harus lebih baik. Hari ini sudah cepat, besok harus lebih cepat. Karena itu inovasi menjadi bagian penting dalam transformasi pelayanan kami,” jelasnya.
Dalam sesi materi, Asyraf juga mengajak peserta memahami alasan fundamental mengapa Program JKN dibangun dengan sistem gotong royong dan mengapa pembiayaannya tidak sepenuhnya ditanggung negara.
Menurutnya, pemahaman terhadap filosofi dasar JKN penting dimiliki oleh para jurnalis agar mampu menyampaikan edukasi yang tepat kepada masyarakat sekaligus membantu memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem jaminan kesehatan nasional.
“Harapan kami sederhana, setelah memahami dasar-dasar JKN, teman-teman media dapat menjadi mitra strategis dalam memberikan edukasi yang benar sehingga masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjadi peserta JKN sebelum sakit, bukan ketika sudah membutuhkan layanan kesehatan,” tutup Asyraf. (JB-01)






