BKKBN Maluku Tuntaskan Kirab Pataka, Menteri Wihaji: Keluarga adalah Kekuatan

Jb. Com, Jakarta – Perjalanan panjang Kirab Pataka Bangga Kencana 2025 dari Provinsi Maluku akhirnya tiba di ujungnya. Di Jakarta, Kamis, 26 Juni 2025, Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku secara resmi menyerahkan Pataka tersebut kepada Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, dalam puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-32.

Penyerahan dilakukan oleh Kepala Perwakilan BKKBN Maluku, Marthin Manuputy, mewakili wilayah regional V (Sulawesi, Maluku, dan Papua). Pataka itu sebelumnya dikirab dari Seram Bagian Barat, melintasi Maluku Tengah, hingga Kota Ambon dalam satu rangkaian kampanye nasional program Bangga Kencana—pembangunan keluarga berkualitas berbasis partisipasi masyarakat.

Acara berlangsung dalam suasana khidmat. Menteri Wihaji dalam pidatonya menegaskan bahwa keluarga merupakan titik awal dari seluruh kerja-kerja kebangsaan. “Keluarga adalah kekuatan. Kalau keluarga kita baik, negara ini akan baik-baik saja,” ujarnya.

Apresiasi untuk Maluku

Pada acara itu, Provinsi Maluku turut menerima penghargaan atas peran aktifnya dalam menyukseskan Kirab Bangga Kencana. Penghargaan diterima langsung oleh Maya Baby Lewerissa, Ketua TP PKK sekaligus Bunda GenRe Maluku.

Wihaji menyebut penghargaan itu sebagai bentuk apresiasi terhadap konsistensi daerah dalam memperkuat kerja pelayanan keluarga. Ia menyebut peran tim pendamping keluarga dan para penyuluh sebagai garda terdepan yang kerap tak terlihat, tetapi vital dalam mendekatkan negara ke masyarakat.

“Saya tahu betul, mereka bekerja menembus pulau dan sungai. Sementara kita di pusat hanya bisa memberi arahan. Mereka pahlawan keluarga,” kata Wihaji.

Wihaji juga menyoroti transformasi kelembagaan dari BKKBN yang kini berstatus kementerian. Menurut dia, transformasi itu harus dimaknai bukan hanya secara struktural, tetapi juga menyentuh kultur birokrasi dan cara berpikir.

“Ini bukan soal ganti baju. Ini soal bagaimana kita mengubah pola kerja, pendekatan, hingga substansi gerakan kita,” kata dia.

Ia juga mengevaluasi beberapa program unggulan yang telah berjalan seperti GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting), TAMASYA (Taman Asuh Sayang Anak), GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), SIDAYA (Lansia Berdaya), hingga pengembangan SUPER APPS sebagai sistem layanan digital keluarga.

Menutup sambutannya, Menteri Wihaji mengibaratkan pencarian generasi emas Indonesia seperti proses menambang emas: butuh digali, disaring, dan dimurnikan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan keluarga tidak akan lahir dari kebijakan semata, tetapi dari kerja kolaboratif dan pendekatan kemanusiaan berbasis teknologi.

 “Generasi emas itu hasil kerja keras. Tidak ada yang instan. Semua harus dimulai dari keluarga, dari rumah,” ucapnya.

Puncak Harganas ke-32 turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dari Maluku, di antaranya Ketua TP PKK Kota Ambon, Kepala Dinas PPKB Kota Ambon, dan jajaran pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat. Partisipasi lintas sektor ini menunjukkan kuatnya dukungan daerah dalam menjadikan keluarga sebagai pusat pembangunan. (JB-01)

 

 

 

 

Pos terkait