Bertaruh Nyawa Demi Layanan Kesehatan: Kisah Tenaga Medis SBT di Balik Hutan Lebat dan Sungai Deras

Kabupaten SBT903 Dilihat

Jb. Com, Bula (SBT) –  Di balik gemerlap pembangunan dan jargon-jargon pelayanan publik, ada kisah-kisah heroik yang kerap luput dari sorotan. Di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Provinsi Maluku, para tenaga medis memilih jalan sunyi: menyusuri hutan lebat, menyeberangi sungai deras, bahkan menantang maut demi satu hal—menyentuh kehidupan di pelosok dengan pelayanan kesehatan dasar.

Selasa (17/6/2025), hujan mengguyur Kota Bula tanpa jeda. Di tengah suasana sepi dan cuaca tak bersahabat, sebuah pesan singkat masuk ke salah satu reporter media Jejekberita.Com. Isinya bukan tentang angka-angka anggaran atau janji proyek, melainkan testimoni perjuangan tenaga medis yang melayani di Kecamatan Kesui, sebuah kawasan terpencil di kabupaten yang dikenal dengan semboyan Ita Wotu Nusa.

“Kami jalan kaki menuju desa Karlomin, Kilyaur, dan Kildor,” ujar Kepala Puskesmas Tamher Timur, Kecamatan Wakate, Husni Samiun, saat menceritakan perjalanannya.

Medan yang ditempuh tidak mudah. Jalan berbatu, hutan basah, dan hujan deras menjadi pengiring langkah mereka. Kendaraan roda empat tak bisa menembus tiga desa yang menjadi sasaran layanan. Satu-satunya jalan: berjalan kaki puluhan kilometer dari Desa Administratif Otademan, melintasi jalur setapak yang hanya dikenal warga lokal.

Keterbatasan alat medis, minimnya sarana transportasi, dan cuaca ekstrem bukan alasan untuk mundur. Di tengah tantangan itu, para petugas tetap melayani pemeriksaan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang anak, pengecekan kesehatan lansia, hingga pengobatan rutin bagi pasien gangguan jiwa.

Namun cerita ekstrem belum berhenti di situ.

Di hari yang sama, tenaga medis dari Puskesmas Ukar Sengan juga berjuang di sisi lain wilayah SBT. Kali ini, mereka harus menyeberangi sungai berarus deras untuk menjangkau Desa Mugusinis. Hanif Wokas, salah satu tenaga medis, mengisahkan bagaimana mereka awalnya berangkat menggunakan speedboat dari Desa Guli-Guli. Tapi ombak tinggi dan angin kencang memaksa mereka memutar arah dan berlabuh di Desa Ainena.

“Dari situ kami jalan kaki. Tapi malam hari kami ketemu sungai yang banjir,” tutur Hanif.

Sungai Kerok—nama sungai yang harus mereka lewati—kini menjadi penghalang terbesar. Arus deras dan minimnya infrastruktur membuat perjalanan menjadi taruhan antara hidup dan mati. Kondisi ini, kata Hanif, bukan kejadian sekali-dua kali. Sudah berulang kali terjadi, terutama di musim timur ketika laut dan sungai sedang ganas-ganasnya.

Ironisnya, wilayah-wilayah ini kerap disebut dalam forum resmi pemerintahan hingga pidato kampanye. Namun, perhatian nyata terhadap akses pelayanan publik, terutama kesehatan, nyaris tak menyentuh realitas di lapangan.

“Kalau musim biasa, aman-aman saja. Tapi musim timur begini, semangat kami hampir habis. Kami harap pemerintah bisa benar-benar melihat kondisi ini,” pintanya.

Para tenaga medis ini tidak meminta banyak. Mereka tidak mencari panggung. Yang mereka harapkan hanyalah akses yang lebih layak, infrastruktur yang mendukung, dan pengakuan bahwa mereka pun bagian dari sistem pelayanan yang mestinya tak terabaikan.

Di tengah derasnya arus sungai dan tebalnya hutan, mereka berjalan tanpa kamera dan tepuk tangan. Tapi justru di situlah kemanusiaan diuji, dan loyalitas terhadap profesi diuji dalam bentuk yang paling nyata.(JB-04)

 

Tinggalkan Balasan