Musala Tak Layak di SMPN 7 Ambon Diperbaiki Usai Sidak, Orang Tua Murid Perbaiki Secara Swadaya

Oplus_131074

Jejakberita. Com, Ambon – Bangunan yang selama ini digunakan sebagai musala di SMP Negeri 7 Ambon akhirnya diperbaiki setelah dinilai tidak layak saat inspeksi mendadak (sidak) Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisuta beberapa waktu lalu.

Perbaikan dilakukan secara swadaya oleh orang tua murid, mengingat kebutuhan mendesak siswa untuk beribadah, terutama menjelang bulan suci Ramadan.

Kepala SMPN 7 Ambon, Anthon Anakotta, membenarkan bahwa kondisi bangunan tersebut memang sudah lama tidak layak dan hal itu telah disadari pihak sekolah sejak awal.

“Apa yang disampaikan Ibu Wakil Wali Kota saat sidak itu benar adanya. Kondisi bangunan memang sudah seperti itu sejak lama, bukan disengaja,” kata Anthon saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (28/1/2026).

Anthon menjelaskan, sebelum sidak dilakukan, pihak sekolah sebenarnya telah menggelar pertemuan bersama komite sekolah dan orang tua murid. Dalam pertemuan tersebut, langkah-langkah penanganan bangunan sudah dibahas dan disepakati bersama.

Namun, saat sidak berlangsung, pihak sekolah tidak memiliki ruang untuk menjelaskan secara rinci kondisi dan rencana yang telah disiapkan, mengingat situasi saat itu cukup ramai dan dihadiri banyak pihak serta petugas pengamanan.

“Waktu sidak, suasananya tidak memungkinkan kami menjelaskan panjang lebar. Padahal sebelumnya kami sudah duduk bersama orang tua dan komite membahas solusi,” ujarnya.

Ia mengakui sempat muncul anggapan dari sebagian pihak bahwa pimpinan sekolah tidak mau menerima masukan. Menyikapi hal itu, pihak sekolah memilih menahan diri agar situasi tetap kondusif. Hingga akhirnya, ketika wakil Wali Kota Ambon mengundang pihak sekolah untuk bertemu langsung, seluruh penjelasan dapat disampaikan secara terbuka.

Lebih lanjut, Anthon meluruskan bahwa bangunan yang dipersoalkan tersebut sejatinya bukanlah musala sejak awal.

Bangunan itu sebelumnya difungsikan sebagai ruang arsip atau perpustakaan. Namun seiring kebutuhan siswa untuk beribadah dan belajar agama, serta berdasarkan kesepakatan orang tua murid, dewan guru, dan guru agama, bangunan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai musala dalam beberapa tahun terakhir.

“Fungsinya berubah karena kebutuhan. Tapi kami juga menyadari, kondisinya memang tidak layak sebagai tempat ibadah,” jelasnya.

Usai sidak, disepakati bahwa bangunan tersebut harus dibongkar dan diperbaiki. Proses pembongkaran telah dimulai sejak Selasa (27/1). Orang tua murid berkomitmen agar pekerjaan rampung dalam waktu sekitar dua minggu dengan bentuk bangunan yang benar-benar layak sebagai musala.

Selain sebagai musala, bangunan tersebut juga direncanakan memiliki fungsi tambahan sebagai ruang penunjang kegiatan sekolah. Hal ini dimaksudkan agar tidak muncul anggapan bahwa sekolah hanya membangun musala tanpa memperhatikan kebutuhan ruang lainnya.

Anthon mengungkapkan, pihak sekolah sebenarnya telah mengusulkan pembangunan dan revitalisasi bangunan, termasuk ruang kelas dan musala, kepada Wali Kota Ambon serta dinas terkait. Namun keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi membuat bantuan tersebut belum dapat direalisasikan hingga saat ini.

“Kami sudah mengusulkan sejak sebelumnya. Tapi karena keterbatasan anggaran, bantuan revitalisasi belum bisa terealisasi,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebutuhan siswa untuk beribadah saat ini sangat mendesak, terlebih menjelang Ramadan. Karena itu, sekolah bersama komite dan orang tua murid mengambil kebijakan untuk melakukan perbaikan secara swadaya.

Dalam pelaksanaannya, orang tua murid datang langsung bersama tukang untuk memulai pembongkaran. Pekerjaan diatur agar tidak mengganggu proses belajar mengajar. Jika dilakukan pada pagi hari berpotensi menimbulkan kebisingan, maka pengerjaan dilanjutkan setelah jam sekolah hingga sore hari.

Seluruh kebutuhan material bangunan seperti seng, kayu, dan perlengkapan lainnya telah dibicarakan dan dikoordinasikan bersama. Pembayaran dilakukan langsung ke pihak toko agar proses pengerjaan dapat berjalan cepat dan efisien.

“Untuk anggaran, semuanya berasal dari sumbangan sukarela orang tua murid. Komite dan orang tua berkomitmen penuh untuk bersama-sama memperbaiki bangunan ini,” tegas Anthon.

Pihak sekolah dan orang tua murid berharap, setelah pembangunan selesai, Wali Kota Ambon dapat kembali datang untuk melihat langsung hasil perbaikan sebagai tindak lanjut atas temuan saat sidak. Dengan begitu, kondisi bangunan yang sebelumnya dinilai tidak layak tidak kembali terulang di kemudian hari. (JB-01)

Pos terkait