Jejakberita. Com, Ambon – Gereja tidak lagi dapat dipandang semata sebagai lembaga keagamaan, melainkan harus hadir aktif sebagai pranata sosial yang menjawab persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan.
Pesan inilah yang mengemuka dalam pembukaan Sidang ke-47 Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Mahia, Minggu (18/1/2026).
Penatua Majelis Pekerja Klasis (MPK) Pulau Ambon, Ronald Lekransy, menegaskan bahwa gereja memiliki tanggung jawab ganda, yakni memenuhi kebutuhan spiritual sekaligus kebutuhan sosial umat. Dalam kapasitasnya sebagai pranata sosial, gereja dituntut menyuarakan suara profetik, khususnya dalam membela kelompok terpinggirkan dan memperjuangkan keadilan sosial.
“Gereja harus hadir untuk menyuarakan keadilan, menolong mereka yang lapar dan haus, memperhatikan anak-anak yang belum beruntung dalam pendidikan, serta turut menjaga keseimbangan ekosistem,” ujar Lekransy dalam arahannya.
Ia menambahkan, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung secara masif menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi kehidupan bergereja. Karena itu, gereja perlu menyiapkan strategi yang tepat dengan menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai prioritas, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga mental dan spiritual keumatan.
Menurut Lekransy, pergumulan inilah yang seharusnya menjadi fokus utama Sidang ke-47 Jemaat GPM Mahia, agar gereja mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa sidang jemaat, baik di Mahia maupun jemaat-jemaat lainnya, merupakan wujud komitmen gereja untuk bertanggung jawab terhadap berbagai persoalan keumatan dan kemasyarakatan. Oleh sebab itu, sidang jemaat harus melahirkan keputusan-keputusan strategis yang mendorong pertumbuhan iman umat, sekaligus responsif terhadap dinamika masyarakat yang plural dan dinamis.
Lekransy juga menyinggung keunikan Jemaat Mahia yang memiliki kondisi topografi menantang, sehingga menuntut kesiapan dan ketangguhan para pelayan. Namun, tantangan tersebut dapat dijawab melalui kesehatian dan kerendahan hati dalam membangun persekutuan yang dilandasi kasih, sebagai satu kesatuan Tubuh Kristus.
“Jemaat Mahia terus bertumbuh dan memberi kontribusi bergereja yang dinamis sebagai bagian dari Gereja Protestan Maluku,” katanya.
Menutup arahannya, Lekransy berharap Sidang ke-47 Jemaat GPM Mahia mampu menghasilkan program dan kegiatan yang berorientasi pada konteks jemaat, menghidupi kearifan lokal dengan iman, serta mendorong pertumbuhan rohani umat.
Di saat yang sama, gereja juga diharapkan mampu berperan sebagai mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam membangun kehidupan bersama yang adil dan berkeadaban. (JB-01)






