Ambon. Jejakberita, Com – Ambon tak ingin hanya dikenal sebagai Kota Musik Dunia. Pemerintah Kota Ambon kini memasang target lebih berani: mengumpulkan pemain jukulele dalam jumlah besar untuk mencetak rekor MURI, bahkan rekor dunia pada tahun depan.
Target tersebut dilemparkan Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena saat membuka Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon 2026 di Pattimura Park, Senin (31/8/2026).
Bodewin meminta seluruh pemain jukulele di Kota Ambon mulai didata dan dipersiapkan. Ia ingin gelaran jukulele tahun depan tidak sekadar menjadi kompetisi, tetapi berubah menjadi pertunjukan besar yang mampu menarik perhatian Indonesia hingga dunia.
“Dicatat semua pemain jukulele, karena tahun depan kita akan memecahkan rekor MURI atau rekor dunia sebagai pemain jukulele terbanyak di Indonesia dan terbanyak di dunia,” kata Bodewin.
Menurutnya, target tersebut merupakan bagian dari upaya membuktikan bahwa jukulele memang telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Ambon.
Bodewin menilai jukulele memiliki posisi yang berbeda dari sekadar alat musik. Jukulele telah tumbuh bersama masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya Ambon.
“Jukulele bukan sekadar alat musik biasa di Kota Ambon, tetapi menjadi jiwa dan semangat kita bersama,” ujarnya.
Bukan Sekadar Kejar Rekor
Bodewin menegaskan ambisi memecahkan rekor tidak boleh dipandang hanya sebagai upaya mengejar penghargaan.
Lebih dari itu, rekor tersebut diharapkan menjadi panggung untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Ambon memiliki tradisi musik yang kuat dan terus berkembang.
Karena itu, ia menginginkan gerakan jukulele melibatkan sebanyak mungkin masyarakat. Sekolah, komunitas musik, pemerintah hingga generasi muda diharapkan menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Bodewin juga mengingatkan bahwa predikat Ambon sebagai Kota Musik Dunia membawa tanggung jawab besar. Pengakuan tersebut tidak boleh berhenti sebagai gelar atau kebanggaan daerah.
“Kota Musik Dunia bukan sekadar narasi atau pengakuan. Ini harus menjadi motivasi bagi kita semua untuk melakukan berbagai hal,” tegasnya.
Musik Harus Kembali ke Sekolah
Ambisi membawa jukulele ke panggung dunia kemudian diikuti dengan pembenahan dari tingkat paling dasar.
Bodewin meminta Dinas Pendidikan bersama Dinas Pariwisata Kota Ambon mencari solusi agar kurikulum musik kembali berjalan di sekolah-sekolah.
Ia bahkan memberikan batas waktu satu bulan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
Bagi Bodewin, pembinaan musik tidak bisa dilakukan secara instan. Talenta musik harus dibentuk sejak anak-anak masih berada di bangku sekolah sehingga dalam jangka panjang Ambon memiliki generasi musisi yang mampu tampil di tingkat nasional maupun internasional.
“Apapun masalahnya segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan di sekolah-sekolah di Kota Ambon,” tegasnya.
Jukulele Harus Satukan Warga
Di balik target rekor dan pembenahan pendidikan musik, Bodewin ingin jukulele memiliki fungsi sosial yang lebih besar.
Ia menegaskan jukulele harus menjadi milik seluruh masyarakat Ambon dan tidak boleh dibatasi oleh latar belakang tertentu.
“Jukulele milik kita semua warga Kota Ambon. Jukulele mesti menjadi alat pemersatu,” ujarnya.
Bodewin juga meminta peserta lomba tidak menjadikan kemenangan sebagai satu-satunya tujuan. Menurutnya, kompetisi merupakan bagian dari proses untuk mengukur hasil latihan dan meningkatkan kemampuan.
Kemenangan harus menjadi motivasi untuk berlatih lebih keras, sedangkan kegagalan harus menjadi alasan untuk bangkit.
Dengan target rekor dunia, penguatan kurikulum musik dan pelibatan generasi muda, Pemkot Ambon ingin menjadikan jukulele sebagai salah satu bukti bahwa predikat Kota Musik Dunia bukan hanya label.
Tahun depan, Bodewin ingin Ambon tidak hanya memainkan jukulele untuk dirinya sendiri, tetapi memainkan musik itu untuk ditunjukkan kepada dunia. ( JB-01)






