AMBON. Jejakberita, Com – Di balik senyum dan keceriaan seorang anak, terkadang tersimpan ketakutan yang tidak pernah terucapkan. Ada anak yang memilih diam saat terluka, ada yang mulai berbohong karena takut dimarahi, dan ada pula yang perlahan menjauh karena merasa tidak dipahami oleh orang tuanya sendiri.
Realita itulah yang disampaikan Tevalion Immanuel Latupeirsa, Wakil Ketua OSIS sekaligus Sekretaris Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Toma Maju SMP Negeri 19 Ambon, usai mengikuti sosialisasi pola asuh anak dan pencegahan kekerasan yang dibawakan Ketua TP PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, di Aula SMP Negeri 19 Ambon, Senin (22/6/2026).
Bagi Tevalion, materi yang disampaikan bukan sekadar teori tentang cara mendidik anak. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi orang tua dan anak untuk saling memahami di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
“Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun terkadang, niat baik itu tidak selalu diterima dengan cara yang baik oleh anak apabila pola asuh yang diterapkan tidak sesuai dengan karakter mereka,” ujar Tevalion.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak masa kini hidup di era yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Tekanan sosial, perkembangan teknologi, dan pengaruh media digital membuat kondisi psikologis anak jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu.
Menurutnya, pola asuh yang terlalu keras dapat membuat anak tumbuh dalam ketakutan. Anak mungkin terlihat patuh, tetapi di dalam dirinya tersimpan kecemasan, rasa tidak percaya diri, bahkan kebiasaan berbohong demi menghindari kemarahan orang tua.
“Kadang anak berbohong bukan karena ingin menjadi nakal, tetapi karena takut dihukum atau dimarahi. Mereka merasa tidak punya ruang untuk jujur,” katanya.
Di sisi lain, pola asuh yang terlalu membebaskan juga tidak kalah berbahaya. Anak yang selalu dituruti tanpa batasan berisiko tumbuh menjadi pribadi yang sulit mandiri dan kurang memahami tanggung jawab.
Karena itu, Tevalion menilai keseimbangan menjadi kunci utama dalam mendidik anak. Orang tua perlu memberikan kasih sayang sekaligus batasan yang jelas, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memahami bahwa setiap anak memiliki karakter yang berbeda.
“Anak tidak hanya membutuhkan aturan, tetapi juga membutuhkan tempat untuk didengar. Kadang yang mereka perlukan bukan nasihat panjang, melainkan seseorang yang mau memahami perasaan mereka,” ungkapnya.
Tevalion juga menegaskan bahwa tanggung jawab membentuk karakter anak tidak hanya berada di pundak keluarga. Sekolah memiliki peran penting sebagai rumah kedua yang membantu membimbing, mengarahkan, dan memperkuat nilai-nilai positif yang ditanamkan di rumah.
Sebagai pengurus OSIS dan PIK-R, dirinya bersama rekan-rekan pelajar lainnya terus berupaya menjadi teman sebaya yang dapat mendengarkan, memberi motivasi, serta membantu siswa yang menghadapi berbagai persoalan remaja.
Di akhir wawancara, Tevalion menyampaikan harapan sederhana namun menyentuh. Ia berharap para orang tua dapat menyesuaikan pola pengasuhan dengan perkembangan zaman tanpa mengesampingkan kesehatan mental anak.
“Anak-anak sekarang tidak bisa dibandingkan dengan generasi dulu. Zaman berubah, tantangan juga berubah. Kami tidak meminta untuk selalu dituruti, tetapi kami ingin dipahami. Kami ingin didengar. Karena ketika anak merasa didengar, mereka akan lebih mudah terbuka, lebih percaya diri, dan lebih dekat dengan orang tuanya,” tutupnya.
Pesan itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi banyak anak, didengar oleh orang tua adalah bentuk kasih sayang yang paling berharga. (JB-01)






