Jb. Com, Ambon – Kinerja Bank Maluku Malut� melesat pada awal 2026. Hingga triwulan I, bank daerah milik Pemerintah Provinsi Maluku dan Maluku Utara itu berhasil membukukan aset sebesar Rp10,59 triliun atau tumbuh lebih dari 26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa ekspansi bisnis Bank Maluku Malut berjalan agresif di tengah persaingan industri perbankan nasional.
Direktur Utama Bank Maluku Malut, Syahrisal Imbar mengatakan, capaian tersebut melampaui target yang telah ditetapkan perusahaan sepanjang triwulan pertama 2026.
“Melampaui rencana dan tumbuh tajam lebih dari 26 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa ekspansi bisnis berjalan agresif namun tetap terukur,” kata Syahrisal, Rabu (6/5).
Tak hanya aset, penyaluran kredit juga mengalami peningkatan signifikan. Hingga Maret 2026, total kredit yang disalurkan mencapai Rp6,18 triliun atau tumbuh lebih dari 11 persen secara tahunan.
Menurut Syahrisal, pertumbuhan kredit tersebut mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia usaha terhadap Bank Maluku Malut, sekaligus menunjukkan komitmen perusahaan dalam mendorong pembiayaan produktif di kawasan timur Indonesia.
“Peningkatan ini mencerminkan kepercayaan dunia usaha yang terus membaik, sekaligus memperlihatkan keberanian bank dalam mendorong pembiayaan produktif,” ujarnya.
Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat mencapai Rp7,11 triliun. Meski sedikit di bawah target, pertumbuhan tahunan tetap berada di kisaran hampir 12 persen.
Dari sisi profitabilitas, Bank Maluku Malut juga mencatat hasil positif. Laba sebelum pajak mencapai Rp81,63 miliar, sedangkan laba bersih berada di angka Rp64,19 miliar.
Capaian tersebut dinilai mempertegas kemampuan bank dalam menjaga pertumbuhan keuntungan di tengah ekspansi bisnis yang terus berjalan.
Selain itu, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) meningkat menjadi 31,77 persen. Angka ini menunjukkan kondisi permodalan perusahaan masih sangat kuat untuk menopang ekspansi usaha ke depan.
Efisiensi operasional juga mengalami perbaikan yang ditandai dengan penurunan rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO).
Meski begitu, manajemen mengakui masih ada sejumlah indikator yang menjadi perhatian. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tercatat mengalami sedikit kenaikan, baik secara gross maupun net. Selain itu, margin bunga bersih (NIM) dan porsi dana murah (CASA) juga mengalami penyesuaian.
Namun demikian, Syahrisal memastikan seluruh indikator tersebut masih berada dalam kondisi yang terkendali.
Ia menegaskan, capaian positif Bank Maluku Malut merupakan hasil kerja kolektif seluruh jajaran direksi dan manajemen perusahaan.
“Capaian ini adalah hasil kolaborasi direksi dan manajemen. Kami akan terus menjaga momentum pertumbuhan ini,” katanya.
Syahrisal juga mengajak pemerintah daerah, masyarakat Maluku dan Maluku Utara, hingga investor untuk terus mempercayakan bank daerah sebagai mitra strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi dan peningkatan pendapatan asli daerah (PAD).
Dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat sejak awal tahun, Bank Maluku Malut optimistis mampu menjaga performa positif hingga akhir 2026 dan memperkuat posisinya sebagai salah satu pilar pembangunan ekonomi di kawasan timur Indonesia. (JB-01)


