Infrastruktur Jalan Rusak di Tanimbar Utara Jadi Sorotan, Warga Minta Bupati Ricky Jauwerissa–Juliana Ratuanak Bertindak Cepat

Kabupaten KKT232 Dilihat

Jejakberita. Com, Saumlaki – Pergantian bupati dari periode ke periode dinilai belum mampu menjawab persoalan mendasar di Kecamatan Tanimbar Utara (Tanut), Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Infrastruktur jalan yang rusak parah kembali menjadi sorotan warga dan memicu polemik di tengah masyarakat.

Warga menilai, selama ini Tanimbar Utara seakan menjadi “lumbung politik” setiap musim pemilihan. Namun setelah pesta demokrasi usai, aspirasi masyarakat disebut kerap terabaikan.

“Pergantian bupati ke bupati sampai ke DPRD, aspirasi masyarakat selalu diabaikan. Janji politik semakin rapuh dan kepercayaan masyarakat makin hilang,” ungkap seorang warga Tanut, Kamis (20/2/2025).

Kondisi jalan yang rusak disebut bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan dan keberlangsungan ekonomi warga. Akses yang berlubang dan berlumpur saat musim hujan mempersulit distribusi hasil kebun serta aktivitas jual beli masyarakat.

Tak hanya itu, warga juga mengkhawatirkan dampaknya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, anak sekolah, dan pasien yang membutuhkan penanganan medis cepat. “Kalau ada yang sakit mendadak, aksesnya susah. Risiko kecelakaan juga tinggi,” tambahnya.

Harapan pada Kepemimpinan Baru

Di tengah kekecewaan tersebut, masyarakat kini menaruh harapan kepada Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Ricky Jauwerissa dan Juliana Ch. Ratuanak, yang baru setahun memimpin daerah itu.

Menurut warga, duet kepemimpinan tersebut dinilai memiliki komitmen perubahan yang lebih jelas dibandingkan periode sebelumnya. Meski belum genap lama menjabat, ekspektasi publik cukup tinggi agar wajah Tanimbar Utara benar-benar dibenahi, khususnya pada sektor infrastruktur dasar.

“Tanimbar Utara ini kecamatan tertua di Provinsi Maluku dan menjadi wajah Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Seharusnya pembangunannya jadi prioritas,” ujar warga lainnya.

Warga berharap pemerintah daerah lebih peka terhadap aspirasi yang selama ini disuarakan. Mereka meminta agar perbaikan jalan tidak lagi menjadi janji tahunan, melainkan direalisasikan secara bertahap dan terukur.

Aspirasi Jadi Tolok Ukur Pembangunan

Bagi masyarakat, suara rakyat semestinya menjadi fondasi pembangunan. Mereka menilai, selama ini pergantian pejabat hanya melahirkan elite-elite baru tanpa perubahan signifikan di lapangan.

“Suara rakyat adalah suara pembangunan. Jangan sampai hanya melahirkan pejabat berdasi yang duduk di kursi empuk, tapi meninggalkan ruang hampa bagi masyarakat,” tegas warga.

Meski demikian, masyarakat Tanimbar Utara tetap menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada kepemimpinan Jauwerissa–Ratuanak. Harapannya, jeritan panjang akibat infrastruktur yang terbengkalai dapat diubah menjadi langkah konkret menuju pemerataan pembangunan.

Kini, publik menanti realisasi janji politik dalam bentuk kerja nyata—agar pergantian kepemimpinan tak lagi identik dengan harapan yang kandas, melainkan menjadi titik balik perubahan bagi Tanimbar Utara. (JB-01)