Ambon. Jejakberita, Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku mencatat tingkat literasi dan inklusi keuangan di Maluku masih berada di bawah rata-rata nasional. Kondisi ini mendorong OJK memperkuat edukasi keuangan sejak usia sekolah, salah satunya melalui pembukaan ribuan rekening Simpanan Pelajar (SimPel) sepanjang 2026.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Puncak Bulan Literasi Keuangan (BLK) Provinsi Maluku 2026 yang digelar di Auditorium Universitas Pattimura, Kota Ambon, Kamis (3/9/2026).
Kegiatan tersebut digelar OJK Provinsi Maluku bersama Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), industri perbankan, satuan pendidikan, serta sejumlah pemangku kepentingan.
Mengusung tema nasional “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”, kegiatan ini juga membawa tagline lokal “Menabung Hari Ini, Sejahtera di Masa Depan” serta “Keuangan Inklusif, Maluku Maju dan Berkelanjutan”.
Acara tersebut dihadiri Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady, Ketua DPRD Provinsi Maluku Benhur George Watubun, Wali Kota Ambon Bodewin Wattimena, pimpinan industri perbankan, jajaran Forkopimda, kepala sekolah, guru, serta lebih dari 1.200 pelajar SMP dan SMA se-Kota Ambon.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang dilaksanakan OJK bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan LPS di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, indeks literasi keuangan nasional mencapai 69,57 persen. Sementara indeks inklusi keuangan nasional berada di angka 93,61 persen.
Di Maluku, indeks literasi keuangan tercatat 63,87 persen dan inklusi keuangan sebesar 87,59 persen. Artinya, masih terdapat kesenjangan sekitar 5-6 persen dibandingkan angka nasional.
Kepala OJK Provinsi Maluku Haramain Billady mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian serius, terutama dalam meningkatkan pemahaman keuangan di kalangan generasi muda.
“Masih ada gap sekitar 5-6 persen dibandingkan dengan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional. Oleh karena itu, misi kita bersama meningkatkan literasi keuangan masyarakat Provinsi Maluku agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan yang tepat dan terhindar dari jebakan layanan keuangan ilegal,” kata Haramain.
OJK juga mencatat indeks literasi keuangan segmen pelajar dan mahasiswa secara nasional berada di angka 62,72 persen. Sementara kelompok usia 15-17 tahun berada di angka 56,04 persen.
Meski mengalami peningkatan dibandingkan 2025, angka tersebut menunjukkan edukasi mengenai pengelolaan keuangan masih perlu diperkuat sejak usia sekolah.
Salah satu langkah yang dilakukan OJK bersama industri perbankan adalah memperluas Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR).
Sepanjang 2026, sebanyak 3.028 rekening Simpanan Pelajar (SimPel) baru telah dibuka di Provinsi Maluku. Rekening tersebut tersebar di 11 kabupaten/kota.
Kota Ambon menjadi wilayah dengan pembukaan rekening terbanyak, yakni 1.099 rekening. Selanjutnya Kabupaten Seram Bagian Barat sebanyak 554 rekening dan Kabupaten Maluku Tenggara sebanyak 407 rekening.
Haramain menegaskan pembukaan rekening tidak boleh berhenti pada pencatatan administrasi. Para pelajar juga perlu membangun kebiasaan menabung secara konsisten.
Menurutnya, rekening yang sudah dibuka harus terus digunakan sehingga budaya menabung benar-benar menjadi kebiasaan generasi muda.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Kantor OJK Provinsi Maluku bersama berbagai pemangku kepentingan telah menggelar 82 kegiatan literasi dan edukasi keuangan.
Kegiatan tersebut menjangkau sedikitnya 9.310 peserta dari berbagai kelompok, mulai dari pelajar, mahasiswa, santri, karyawan, perempuan, petani, nelayan, pelaku UMKM, kalangan profesi hingga masyarakat umum.
Selama periode Bulan Literasi Keuangan pada Mei-Agustus 2026, OJK juga menggelar berbagai kegiatan, antara lain edukasi ke sekolah, peluncuran Modul Ajar Literasi Keuangan bersama Pemerintah Kota Ambon, Training of Trainers bagi guru IPS SMP dan MTs, sosialisasi kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal, pengenalan SimPel, edukasi keuangan syariah hingga edukasi bagi penyandang disabilitas.
OJK juga membentuk Duta Literasi Keuangan dari berbagai unsur, termasuk industri jasa keuangan, guru, Duta Bahasa Provinsi Maluku dan komunitas mahasiswa.
Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mengapresiasi rangkaian program literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan OJK.
Menurut Hendrik, edukasi keuangan harus terus diperluas agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu mengelola keuangan secara bijak sekaligus memahami risiko layanan keuangan digital.
“Sebagai Pemerintah Daerah, saya berkomitmen untuk terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan, perbankan, satuan pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan lainnya dalam mendorong budaya menabung dan memperluas inklusi keuangan di seluruh wilayah Maluku,” ujar Hendrik.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar berhati-hati terhadap pinjaman daring ilegal, investasi ilegal, judi daring dan berbagai modus penipuan keuangan digital.
Hendrik meminta masyarakat menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, serta kode OTP agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Upaya memperkuat literasi dan inklusi keuangan juga membawa sejumlah penghargaan bagi Maluku di tingkat nasional.
Pada puncak peringatan HIM dan BLK 2026 tingkat nasional yang digelar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi pada 28 Agustus 2026, Maluku meraih tiga penghargaan.
Provinsi Maluku meraih KEJAR Award 2026 kategori Wilayah Implementasi KEJAR Terbaik Tingkat Provinsi Regional Nusa Tenggara-Maluku-Papua.
PT BPR Modern Express meraih KEJAR Award 2026 kategori Bank Implementasi KEJAR Terbaik Subkategori BPR/BPRS Wilayah Nusa Tenggara-Maluku-Papua.
Sementara Pemerintah Kota Ambon meraih Financial Literacy Award 2026 kategori Pemerintah Daerah dengan Program Literasi Keuangan Terbaik Tingkat Kota.
Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangkaian acara nasional yang dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi bersama jajaran kementerian dan lembaga.
Puncak HIM dan BLK Provinsi Maluku 2026 juga diisi talkshow edukasi keuangan dengan narasumber dari OJK, LPS dan Bank Indonesia.
Selain itu, digelar aksi inklusi keuangan melalui pembukaan rekening SimPel, berbagai lomba edukatif serta pembagian door prize bagi peserta.
OJK Provinsi Maluku berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Budaya menabung dan kecakapan mengelola keuangan diharapkan tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat, khususnya generasi muda.
Penguatan literasi dan inklusi keuangan juga diharapkan menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat Maluku yang semakin terliterasi, inklusif dan sejahtera secara finansial menuju Indonesia Emas 2045. (JB-01)






