OJK Maluku Dorong Generasi Muda Melek Finansial, Tren YOLO dan FOMO Jadi Sorotan

Ambon. Jejakberita, Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Maluku menyoroti masih adanya kesenjangan antara literasi dan inklusi keuangan masyarakat. Banyak masyarakat dinilai sudah menggunakan produk dan layanan keuangan, namun belum sepenuhnya memahami manfaat, karakteristik, hingga risiko dari produk yang digunakan.

Hal tersebut disampaikan Kepala OJK Provinsi Maluku, Haramain Billady, dalam kegiatan peringatan Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan Provinsi Maluku 2026 yang berlangsung di Auditorium Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Kamis (3/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Maluku, Ketua DPRD Maluku, Wali Kota Ambon, jajaran OJK Maluku, kalangan perbankan, serta peserta didik dari satuan pendidikan SMP dan SMA se-Kota Ambon, termasuk Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah.

Dalam sambutannya, Haramain menegaskan peningkatan literasi dan inklusi keuangan bukan merupakan pekerjaan satu lembaga saja. Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, OJK, Bank Indonesia, industri jasa keuangan, satuan pendidikan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

“Ini tentu saja bukan pekerjaan sendiri dari OJK, Bank Indonesia, tetapi membutuhkan dukungan seluruh pihak,” ujar Haramain.

Ia menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan secara nasional bersama Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inklusi dan literasi keuangan menunjukkan peningkatan.

Secara nasional, tingkat inklusi keuangan meningkat dari 92,76 persen menjadi 93,1 persen. Sementara tingkat literasi keuangan meningkat dari 66,64 persen menjadi 69,57 persen.

Haramain menjelaskan, literasi keuangan menggambarkan sejauh mana masyarakat memahami produk dan layanan keuangan. Sedangkan inklusi keuangan menunjukkan seberapa banyak masyarakat telah menggunakan produk dan layanan keuangan.

“Jadi tingkat literasi itu tingkat pemahaman, seberapa paham masyarakat memahami produk keuangan. Sedangkan tingkat inklusi, seberapa banyak masyarakat menggunakan produk keuangan,” jelasnya.

Menurutnya, peningkatan tersebut patut diapresiasi. Namun, masih terdapat kesenjangan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan yang perlu menjadi perhatian bersama.

Kondisi tersebut menunjukkan sebagian masyarakat sudah menggunakan berbagai produk keuangan, tetapi belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai karakteristik dan risiko produk tersebut.

“Orang banyak pakai dulu, tetapi belum paham produknya dan risikonya seperti apa. Makanya kita harus terus melakukan edukasi,” katanya.

Haramain juga menyoroti pentingnya meningkatkan literasi keuangan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Kelompok usia muda dinilai menjadi salah satu segmen strategis karena akan menjadi generasi yang mengambil berbagai keputusan ekonomi dan keuangan pada masa mendatang.

Ia menyebut generasi Z hingga generasi Alpha kini memiliki posisi penting dalam perkembangan ekonomi digital, termasuk aktivitas di sektor keuangan dan pasar modal.

Karena itu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan perlu diberikan sejak bangku sekolah.

“Adik-adik itu masa depan kita,” kata Haramain di hadapan para pelajar yang hadir.

Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah mengikuti tren konsumtif hanya karena pengaruh lingkungan maupun media sosial.

Haramain menyinggung istilah YOLO (You Only Live Once) dan FOMO (Fear of Missing Out) yang kerap melekat pada kehidupan generasi muda. Menurutnya, tanpa pemahaman keuangan yang baik, dorongan mengikuti tren dapat memengaruhi seseorang dalam mengambil keputusan finansial.

Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan serta memahami konsekuensi dari setiap keputusan keuangan.

OJK Maluku juga terus memperluas program edukasi dan literasi keuangan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan, mulai dari seminar, edukasi masyarakat, hingga sosialisasi di lingkungan pendidikan.

Haramain berharap program literasi keuangan yang dilakukan di Kota Ambon dapat dikembangkan ke kabupaten dan kota lainnya di Maluku.

“Harapan kami, melalui program literasi keuangan ini kita bisa melakukan edukasi dan kemudian diaplikasikan di kabupaten dan kota lainnya, sehingga literasi keuangan di 10 kabupaten/kota di Provinsi Maluku dapat terus kita tingkatkan,” ujarnya.

Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam pelaksanaan program tersebut.

Menurut Haramain, kolaborasi menjadi kunci agar peningkatan literasi dan inklusi keuangan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi benar-benar memberikan dampak bagi masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Haramain turut menyampaikan capaian Provinsi Maluku dalam bidang literasi dan inklusi keuangan.

Ia mengatakan Maluku berhasil memperoleh tiga penghargaan dalam rangkaian kegiatan Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan di tingkat nasional.

Dua penghargaan berkaitan dengan capaian wilayah Indonesia Timur, sementara satu penghargaan diberikan kepada Pemerintah Kota Ambon atas program literasi keuangan.

Haramain menyebut capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah daerah, OJK, industri jasa keuangan, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak lainnya.

Ia berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas edukasi dan inklusi keuangan di Maluku.

“Saya percaya Provinsi Maluku punya potensi luar biasa. Kita bisa jauh lebih baik lagi,” tegasnya.

Haramain kemudian mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat sinergi dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat dengan tingkat literasi keuangan yang baik akan lebih mampu mengambil keputusan finansial secara bijak dan bertanggung jawab.

“Dengan tingkat literasi keuangan yang baik, masyarakat Maluku diharapkan menjadi pengambil keputusan keuangan yang bijak,” pungkasnya.  (JB-01)

Pos terkait