Ambon – Lahan tidur di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Ambon disulap menjadi lahan produktif. Hasilnya, sebanyak 40 kilogram jagung manis berhasil dipanen warga binaan sebagai bagian dari program pembinaan kemandirian sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Panen jagung manis tersebut dilakukan di lingkungan Lapas Ambon, Jumat (4/9/2026). Hasil panen menjadi bukti pemanfaatan lahan kosong dapat memberikan nilai produktif sekaligus menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan.
Program pertanian ini merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang diberikan kepada warga binaan selama menjalani masa pidana. Melalui kegiatan tersebut, warga binaan dibekali keterampilan bercocok tanam yang diharapkan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.
Selain mendukung pembinaan, kegiatan tersebut juga sejalan dengan program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan dalam mendorong ketahanan serta kemandirian pangan di lingkungan lapas dan rumah tahanan negara melalui optimalisasi lahan yang tersedia.
Kepala Seksi Kegiatan Kerja (Kasi Giatja) Lapas Ambon, Zulkipli Salampessy, mengatakan keberhasilan panen 40 kilogram jagung manis tersebut tidak terlepas dari ketekunan warga binaan yang terlibat sejak proses awal penanaman.
Menurutnya, warga binaan ikut mengerjakan seluruh tahapan pertanian, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, perawatan hingga pemanenan. Proses tersebut sekaligus menjadi sarana transfer pengetahuan dan keterampilan di bidang pertanian.
“Kami terus mengoptimalkan pemanfaatan lahan tidur agar bernilai produktif, dan panen jagung manis seberat 40 kilogram ini menjadi bukti nyata bahwa program pembinaan kemandirian berjalan dengan sangat baik di lapangan,” tutur Zulkipli.
Jagung hasil panen kemudian dipasarkan di lingkungan Lapas Ambon dengan dijual kepada para pegawai. Hasil penjualan selanjutnya akan disetorkan sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), sementara warga binaan yang terlibat dalam proses budidaya mendapatkan premi sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.
Salah satu warga binaan berinisial MK mengaku senang dapat terlibat dalam program tersebut. Ia mengatakan kegiatan bertani memberikan pengalaman baru sekaligus membuat waktu selama menjalani pembinaan menjadi lebih produktif.
“Kami sangat senang dan bangga bisa ikut merawat tanaman ini hingga panen. Selain menambah pengetahuan baru tentang pertanian, kegiatan ini juga membuat hari-hari kami di lapas menjadi jauh lebih produktif dan bermanfaat,” ujar MK.
Sementara itu, Kepala Lapas Ambon, S. Hendra Budiman, mengapresiasi kerja keras petugas pembinaan dan warga binaan yang telah berhasil mengembangkan lahan kosong menjadi lahan produktif.
Ia menyebut kegiatan tersebut bukan hanya menghasilkan bahan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan sarana asimilasi dan edukasi bagi warga binaan.
“Ini menjadi pengembangan sarana asimilasi dan edukasi. Semoga yang dilakukan ada progres dan manfaat lebih, serta terus konsisten menjalankan program aksi kementerian,” tegas S. Hendra Budiman.
Setelah panen, jajaran Lapas Ambon bersama warga binaan melakukan pengecekan hasil kebun dan evaluasi sebagai persiapan untuk siklus tanam berikutnya.
Lapas Ambon berharap optimalisasi lahan tidur tersebut dapat terus dikembangkan sehingga menghasilkan berbagai komoditas pertanian sekaligus memperkuat pembinaan kemandirian.
Program ini diharapkan mampu membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat, sekaligus menjadikan lingkungan lapas sebagai ruang produktif untuk mendukung ketahanan pangan. (JB-01)






