Rutan Ambon Go Digital! SIMPATI BINA PRIBADI Bikin Presensi Warga Binaan Lebih Akurat

Ambon. Jejakberita, Com – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon mulai mendorong digitalisasi pembinaan Warga Binaan. Kepala Rutan Ambon, Meta Putra, memperkenalkan SIMPATI BINA PRIBADI (Sistem Monitoring Presensi Pembinaan dan Integrasi Berbasis Web) untuk mengubah sistem presensi pembinaan yang sebelumnya manual menjadi berbasis digital.

Inovasi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari aksi perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator Angkatan II Tahun 2026, Kamis (3/9/2026). Program ini diarahkan untuk memperkuat monitoring kehadiran sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola pembinaan di Rutan Ambon.

SIMPATI BINA PRIBADI dikembangkan karena pencatatan kehadiran Warga Binaan dalam kegiatan pembinaan sebelumnya masih menggunakan daftar hadir tertulis. Cara tersebut dinilai membutuhkan waktu dalam proses pencatatan dan rekapitulasi serta memiliki potensi kesalahan dalam pengelolaan data.

Digitalisasi presensi diharapkan membuat proses pencatatan menjadi lebih cepat, akurat, objektif, dan terdokumentasi. Petugas juga dapat melakukan monitoring kehadiran secara lebih mudah tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pencatatan manual.

Meta Putra mengatakan inovasi tersebut bukan sekadar mengganti daftar hadir kertas dengan sistem digital. Menurutnya, data kehadiran harus dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk melihat perkembangan kedisiplinan dan efektivitas pembinaan.

“SIMPATI BINA PRIBADI merupakan upaya untuk memanfaatkan teknologi dalam memperkuat proses pembinaan. Data kehadiran yang tercatat secara digital diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih objektif mengenai kedisiplinan Warga Binaan dalam mengikuti kegiatan pembinaan,” ujar Meta.

Diharapkan Jadi Dasar Evaluasi Pembinaan
Implementasi SIMPATI BINA PRIBADI dilakukan secara bertahap dengan melibatkan Tim Efektif dan stakeholder terkait. Tahapannya dimulai dari konsultasi bersama mentor, pembentukan Tim Efektif, penyusunan dan penetapan tugas, hingga sosialisasi kepada pejabat struktural dan jajaran pegawai.

Selanjutnya dilakukan penyiapan aplikasi, sosialisasi penggunaan sistem kepada petugas dan Warga Binaan, serta uji coba aplikasi.
Setelah tahapan tersebut dilalui, SIMPATI BINA PRIBADI mulai diarahkan untuk digunakan dalam kegiatan pembinaan kepribadian sebagai instrumen monitoring kehadiran Warga Binaan.

Pelaksanaan aksi perubahan ini mendapat arahan, pendampingan, dan evaluasi dari Coach Vonita, SE., MM serta Penguji Dra. Bayana, M.Si., CGCA. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan inovasi berjalan terarah, terukur, dan memberikan manfaat terhadap peningkatan tata kelola pembinaan.

Bagi petugas, sistem ini diharapkan mempermudah pencatatan, rekapitulasi, monitoring hingga penyusunan laporan. Sementara bagi Warga Binaan, sistem presensi yang lebih objektif diharapkan dapat mendorong kedisiplinan dalam mengikuti program pembinaan.

Dari sisi organisasi, data kehadiran yang tersimpan secara digital dapat menjadi salah satu bahan evaluasi dan mendukung pengambilan keputusan terkait pelaksanaan pembinaan.

“Dengan adanya data yang terdokumentasi secara digital, petugas dapat melakukan monitoring dan evaluasi dengan lebih mudah. Harapannya, data tersebut tidak hanya menjadi arsip, tetapi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembinaan,” kata Meta.

Ke depan, penggunaan SIMPATI BINA PRIBADI akan dipantau dan dievaluasi secara berkala. Tingkat kehadiran Warga Binaan akan dianalisis secara periodik untuk melihat perkembangan kedisiplinan sekaligus efektivitas program pembinaan.

Inovasi ini juga diarahkan untuk dapat dikembangkan dan diintegrasikan dengan program pembinaan lainnya. Dengan begitu, data presensi tidak hanya menjadi catatan kehadiran, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari sistem informasi pembinaan yang lebih komprehensif.

Melalui SIMPATI BINA PRIBADI, Rutan Ambon mendorong perubahan pola monitoring pembinaan dari sistem manual menuju tata kelola yang lebih digital, efektif, transparan, dan akuntabel.

Transformasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada digitalisasi presensi, tetapi mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembinaan dan mendukung penyelenggaraan pemasyarakatan yang semakin modern dan berorientasi pada hasil.  (JB-01)

Pos terkait