Ambon. Jejakberita, Com – Kapolda Maluku Irjen Pol Prof Dr Dadang Hartanto menegaskan pembangunan sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci utama untuk mewujudkan Maluku yang aman, maju dan berdaya saing. Karena itu, Polri memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Maluku (UM Maluku), dalam bidang pendidikan, literasi, karakter hingga ketahanan sosial.
Hal tersebut disampaikan Dadang saat menerima audiensi pimpinan UM Maluku di Ruang Rapat Kapolda Maluku, Kamis (6/8/2026). Pertemuan itu membahas penguatan sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi dalam menyiapkan generasi muda Maluku.
Audiensi dipimpin Rektor UM Maluku Prof Faris Al-Fadhat, M.A., Ph.D. Ia didampingi jajaran pimpinan universitas. Sementara Kapolda didampingi Direktur Intelkam Polda Maluku, Direktur Binmas Polda Maluku, dan Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi.
Dalam pertemuan tersebut, pihak UM Maluku menyampaikan perkembangan kampus yang mengalami peningkatan jumlah program studi. Dalam setahun, program studi bertambah dari lima menjadi 10 dan ditargetkan menjadi 11 dalam waktu dekat serta mencapai 15 program studi pada 2027.
UM Maluku juga mengundang Kapolda untuk memberikan kuliah umum dan kuliah kebangsaan kepada mahasiswa. Kegiatan itu diharapkan dapat memperkuat wawasan kebangsaan, karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Kapolda menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, kerja sama Polri dengan perguruan tinggi tidak boleh hanya berkaitan dengan persoalan keamanan kampus.
“Hubungan Polri dengan perguruan tinggi harus melampaui kerja sama yang bersifat operasional. Kita harus membangun kolaborasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda Maluku yang berkualitas, berkarakter, dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah maupun bangsa,” kata Dadang.
Pendidikan Jadi Fondasi Keamanan
Dadang mengatakan keamanan tidak cukup hanya diukur dari rendahnya angka kriminalitas maupun gangguan kamtibmas. Menurutnya, keamanan berkelanjutan juga ditentukan oleh kualitas masyarakat yang cerdas, produktif, sehat dan memiliki kesempatan untuk berkembang.
“Keamanan adalah prasyarat pembangunan, tetapi pembangunan manusia adalah fondasi utama keamanan itu sendiri. Ketika masyarakat memiliki pendidikan yang baik, karakter yang kuat, dan kesempatan berkembang, maka stabilitas sosial akan tumbuh secara alami,” ujarnya.
Ia menilai Maluku memiliki modal besar untuk berkembang. Kekayaan sumber daya alam, kekuatan budaya serta potensi generasi muda dinilai menjadi kekuatan yang harus dikelola secara optimal.
Namun, seluruh potensi tersebut membutuhkan SDM yang memiliki kemampuan dan karakter untuk mengelolanya.
“Saya melihat Maluku memiliki modal yang luar biasa. Kekayaan laut, sumber daya alam, dan masyarakat yang tangguh merupakan anugerah besar. Persoalannya bukan pada kurangnya potensi, tetapi bagaimana kita membangun manusia yang mampu mengelola seluruh potensi tersebut secara cerdas dan berkelanjutan,” jelasnya.
Kapolda juga mendorong penguatan budaya belajar dan literasi. Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya dimaknai sebagai upaya memperoleh ijazah atau gelar, tetapi harus menjadi proses pembelajaran sepanjang hayat.
Ia berharap perguruan tinggi dapat menjadi pusat pengembangan budaya membaca dan literasi hingga ke tingkat desa.
“Budaya membaca harus menjadi gerakan bersama. Masyarakat yang gemar membaca akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih mudah menerima inovasi, dan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” katanya.
Dorong Penguasaan Bahasa Inggris
Selain literasi, Kapolda menyoroti pentingnya penguasaan bahasa asing, khususnya bahasa Inggris. Kemampuan tersebut dinilai penting untuk membuka peluang generasi muda Maluku di tingkat nasional maupun internasional.
Dadang bahkan mendorong munculnya gerakan pembelajaran bahasa Inggris secara berkelanjutan di Maluku.
“Saya berharap ke depan lahir gerakan pembelajaran bahasa Inggris yang berkelanjutan di Maluku. Bahkan, apabila memungkinkan, kita dapat mengembangkan konsep Kampung Inggris sebagai ruang membangun budaya belajar, kedisiplinan, kepercayaan diri, sekaligus membuka akses generasi muda terhadap peluang yang lebih luas,” ungkapnya.
Soroti Kekerasan dalam Keluarga
Dalam dialog tersebut, Kapolda juga menyoroti persoalan kekerasan di lingkungan keluarga dan komunitas.
Ia menyebut berdasarkan analisis terhadap perkara yang ditangani Polda Maluku, sekitar 70-80 persen perkara kekerasan terjadi di lingkungan domestik, baik dalam rumah tangga maupun hubungan sosial terdekat.
Korban dalam berbagai kasus tersebut, kata dia, banyak berasal dari kelompok perempuan dan anak.
“Penegakan hukum memang penting, tetapi hukum hanya menyelesaikan akibat. Jika kita ingin menyelesaikan persoalan hingga ke akar, maka yang harus dibangun adalah keluarga yang kuat, masyarakat yang sehat, dan karakter generasi mudanya,” tegasnya.
Menurut Dadang, persoalan tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai tekanan ekonomi, pola pengasuhan, lemahnya komunikasi keluarga hingga kemampuan mengelola konflik dan emosi.
Karena itu, pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan hukum. Pemerintah, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat perlu terlibat dalam membangun ketahanan keluarga.
“Keluarga adalah sekolah pertama bagi setiap anak. Apabila keluarga mampu menjalankan fungsi pendidikan, perlindungan, kasih sayang, dan pembinaan karakter dengan baik, maka potensi munculnya berbagai bentuk penyimpangan sosial akan jauh berkurang,” ujarnya.
Kampus Diminta Hadir Beri Solusi
Kapolda berharap perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik. Kampus juga diminta ikut menyelesaikan persoalan sosial melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Menurutnya, penelitian tentang ketahanan keluarga, pola pengasuhan, pendidikan karakter dan pemberdayaan masyarakat harus dapat diterjemahkan menjadi program yang memberikan manfaat langsung.
“Perguruan tinggi harus hadir memberikan solusi. Penelitian mengenai ketahanan keluarga, pola pengasuhan, kesehatan mental, pendidikan karakter, hingga pemberdayaan masyarakat harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.
Mahasiswa juga didorong terlibat dalam edukasi keluarga, pendampingan anak, literasi, penyuluhan pola pengasuhan dan pemberdayaan masyarakat.
“Mahasiswa adalah agen perubahan. Kehadiran mereka di tengah masyarakat harus membawa solusi, memperkuat pendidikan, membangun optimisme, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Itulah makna pengabdian yang sesungguhnya,” lanjut Dadang.
Perkuat Toleransi dan Literasi Digital
Selain pendidikan dan ketahanan keluarga, Kapolda menilai solidaritas sosial menjadi faktor penting dalam menjaga keamanan Maluku.
Ia mengingatkan potensi persoalan yang dapat muncul akibat egoisme kelompok dan penyebaran informasi yang tidak terverifikasi di media sosial.
Generasi muda yang tidak mengalami langsung konflik masa lalu, kata Dadang, perlu dibekali pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.
“Keamanan tidak hanya dibangun melalui penegakan hukum. Keamanan tumbuh dari masyarakat yang saling percaya, terbuka terhadap perbedaan, mampu berdialog, serta menjadikan keberagaman sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan,” ujarnya.
Polda Maluku, lanjutnya, terus mengembangkan Program Polisi Mengajar. Program tersebut menghadirkan anggota Polri di sekolah dan perguruan tinggi untuk memberikan edukasi mengenai wawasan kebangsaan, toleransi, disiplin, etika bermedia sosial, bahaya narkoba dan pentingnya menjaga persatuan.
“Kami ingin kehadiran Polri di lingkungan pendidikan dipahami sebagai mitra strategis dalam membangun karakter generasi muda. Pengalaman lapangan yang dimiliki Polri dapat dipadukan dengan kekuatan akademik perguruan tinggi untuk melahirkan solusi yang lebih efektif bagi pembangunan masyarakat,” kata Dadang.
Polda Maluku dan UM Maluku Perkuat Kolaborasi
Kapolda menegaskan pembangunan Maluku tidak dapat dilakukan secara sektoral. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, dunia usaha dan masyarakat perlu memiliki visi bersama.
Ia juga menilai pendidikan, literasi dan dialog penting untuk menciptakan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan sekaligus mendukung iklim pembangunan dan investasi yang kondusif.
“Kita membutuhkan masyarakat yang terbuka terhadap perubahan, memiliki wawasan yang luas, serta mampu melihat setiap persoalan secara objektif. Pendidikan, literasi, dan dialog adalah fondasi utama untuk membangun masyarakat yang demikian,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Maluku Kombes Pol Rositah Umasugi mengatakan audiensi tersebut menjadi bagian dari komitmen Polda Maluku memperluas peran Polri dalam pembangunan SDM melalui kerja sama dengan dunia pendidikan.
“Bapak Kapolda menegaskan bahwa keamanan yang berkelanjutan hanya dapat dibangun apabila seluruh elemen bangsa bergerak bersama memperkuat pendidikan, karakter, literasi, ketahanan keluarga, dan solidaritas sosial,” kata Rositah.
Dia mengatakan gagasan yang disampaikan Kapolda akan ditindaklanjuti melalui penguatan kerja sama dengan perguruan tinggi. Bentuknya antara lain program edukasi, dialog kebangsaan, pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan literasi hukum dan digital bagi generasi muda.
Audiensi yang berlangsung sekitar satu jam itu ditutup dengan komitmen memperkuat kolaborasi Polda Maluku dan UM Maluku dalam pendidikan, pengembangan SDM, penelitian, pengabdian kepada masyarakat serta program yang mendukung keamanan dan pembangunan berkelanjutan di Maluku.
Kapolda menegaskan pembangunan daerah pada akhirnya harus dimulai dari pembangunan manusianya.
“Membangun Maluku harus dimulai dengan membangun manusianya. Ketika karakter, ilmu pengetahuan, dan semangat belajar menjadi budaya, saya yakin Maluku akan mampu melahirkan generasi yang unggul, berdaya saing, dan siap menjadi bagian penting dalam kemajuan Indonesia,” pungkasnya. (JB-01)






