Forum Pakar Maritim di Ambon Bahas Net Gain Biodiversity, Dorong Maluku Jadi Model Integrasi Energi dan Konservasi

Ambon. Jejakberita, Com– Isu keberlanjutan pembangunan energi nasional dan pelestarian laut menjadi sorotan dalam Forum Pakar Maritim bertema Net Gain Biodiversity (NGB), Warisan Ekologis untuk Maluku dan Indonesia yang digelar di Ambon, Selasa (24/2/2026). Forum ini menegaskan bahwa proyek energi di wilayah pesisir dan laut tak boleh lagi sekadar meminimalkan dampak, tetapi harus memberi manfaat ekologis yang lebih besar bagi lingkungan.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Raja Seafood Restaurant ini merupakan kolaborasi antara Yayasan Garuda di Lautku dan Komando Daerah TNI Angkatan Laut IX (Kodaeral IX).

Komandan Kodaeral IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, selaku pendiri dan pembina Yayasan Garuda di Lautku, mengatakan Indonesia, khususnya Maluku, memiliki kekayaan biodiversitas laut yang menjadi aset strategis bangsa.

“Pembangunan proyek energi nasional di kawasan pesisir dan laut harus berjalan seiring dengan komitmen menjaga dan meningkatkan biodiversitas. Konsep Net Gain Biodiversity menekankan bahwa setiap pembangunan harus menghasilkan manfaat ekologis lebih besar daripada dampak yang ditimbulkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dalam konteks pertahanan semesta, harmoni manusia dan alam menjadi bagian integral dari pengembangan sistem pertahanan negara dalam menjaga dan mengendalikan kedaulatan NKRI. Pertahanan maritim, kata dia, bukan hanya soal menjaga batas wilayah, tetapi juga memastikan ekosistem laut tetap produktif dan lestari.

Menurutnya, penerapan NGB juga memiliki dampak sosial-ekonomi. Ekosistem yang sehat dapat memperkuat ketahanan pangan, membuka lapangan kerja baru, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Forum tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perwakilan pemerintah pusat dan daerah seperti KKP, SKK Migas, dan Pemda Maluku, akademisi dari Universitas Pattimura dan Universitas Padjadjaran, hingga Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), industri energi dan migas termasuk INPEX Masela, TNI AL, unsur pertahanan maritim, masyarakat pesisir, serta jurnalis.

Tujuan utama forum ini adalah merumuskan rekomendasi teknis penerapan Net Gain Biodiversity di sektor energi dan konservasi laut, membangun sinergi multisektor antara pertahanan maritim, pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat, serta menegaskan Maluku sebagai model integrasi pembangunan energi, konservasi biodiversitas, dan pertahanan semesta.

“Forum Pakar Maritim ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi lintas sektor untuk merumuskan rekomendasi teknis yang dapat dijadikan acuan nasional maupun internasional, sehingga Maluku tampil sebagai model integrasi antara kedaulatan maritim, konservasi biodiversitas, dan pengentasan kemiskinan,” kata Hanarko.

Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara kunci dan undangan, di antaranya Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof. Amarulla Octavian, Gubernur Maluku Hendrik  Lewerissa yang diwakili Sekretaris Daerah Sadali Ie, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP Koswara, Dekan FPIK Unpad Sunarto, serta Panglima Koarmada III Laksda TNI Dato Rusman SN.

Forum dipandu oleh Dekan FPIK Unpatti Prof. Yoisye Lopulalan sebagai moderator. (JB-01)

Pos terkait