BRI Ambon Perkuat Literasi Keuangan, Fokus Edukasi Keamanan Transaksi Digital ke Masyarakat

Jejakberita. Com, Ambon – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Ambon terus memperkuat komitmen dalam meningkatkan literasi keuangan masyarakat, khususnya terkait keamanan transaksi digital di tengah maraknya kasus penipuan berbasis teknologi. Upaya ini dilakukan melalui berbagai program edukasi yang menyasar langsung masyarakat hingga ke lapisan terbawah.

Manajer Funding dan Transaksional BRI Cabang Ambon, Ali Said Ambar, mengatakan bahwa literasi keuangan menjadi bagian penting dari tugas perbankan yang dijalankan secara berkelanjutan, baik melalui program internal BRI maupun kolaborasi bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

“Setiap program OJK biasanya turut membantu pelaksanaan literasi keuangan. OJK melakukan pengawasan sekaligus edukasi, dan kami di perbankan ikut terlibat langsung di lapangan,” ujar Said Ambar saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (19/1/2026).

Menurut Said, edukasi paling intensif justru dilakukan oleh petugas BRI di sektor mikro karena bersentuhan langsung dengan masyarakat yang masih awam terhadap produk dan layanan keuangan digital.

“Teman-teman di unit mikro itu yang paling banyak berhadapan langsung dengan masyarakat awam. Saat mereka memasarkan produk, baik tabungan maupun pinjaman, di situ sekaligus diberikan edukasi,” jelasnya.

Ia menegaskan, aspek paling krusial yang saat ini terus ditekankan BRI kepada nasabah adalah keamanan transaksi digital, mengingat modus penipuan semakin marak seiring meningkatnya penggunaan ponsel pintar dan layanan perbankan digital.

“Sekarang ini yang paling penting adalah edukasi soal keamanan transaksi. Penipuan makin marak, informasi mudah masuk ke HP, kalau salah digunakan risikonya besar,” katanya.

Said juga menyoroti pemanfaatan QRIS sebagai bagian dari program Bank Indonesia untuk mendorong transaksi non-tunai. Menurutnya, penggunaan QRIS tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga lebih aman dan efisien, khususnya bagi pelaku usaha dan tenant.

“QRIS itu program edukasi transaksi non-tunai. Uang langsung masuk ke rekening, tidak perlu lagi simpan uang tunai di toko. Tapi tetap harus sering dicek,” ujarnya.

Untuk meminimalkan risiko penipuan, BRI juga memberikan layanan QRIS dengan Merchant Apps yang memungkinkan pelaku usaha memantau transaksi secara real time melalui ponsel.

“Kalau transaksi berhasil, notifikasi langsung muncul di HP. Ini penting karena sekarang modus penipuan QRIS juga sudah ada,” jelas Said.

Selain melalui pertemuan dan sosialisasi formal, literasi keuangan juga dilakukan lewat pendekatan langsung, termasuk melalui Agen BRILink yang tersebar luas hingga ke pelosok daerah.

“Agen BRILink itu perpanjangan tangan BRI. Mereka juga ikut mengedukasi nasabah, saling mengingatkan agar tidak sembarang membuka SMS, WA, atau file APK yang mencurigakan,” ungkapnya.

Said menilai, kemajuan teknologi tanpa dibarengi pengetahuan yang cukup justru berpotensi menimbulkan risiko besar bagi masyarakat.

“Kalau teknologinya canggih tapi pengetahuannya kurang, itu lebih berbahaya. Karena mudah sekali terjebak penipuan,” katanya.

Dalam pelaksanaan literasi, BRI Ambon juga kerap dilibatkan OJK karena memiliki wilayah kerja yang luas, mencakup lima cabang, puluhan unit dan KCP, serta jaringan agen yang tersebar di berbagai daerah, termasuk wilayah terpencil.

“Biasanya OJK minta kami terlibat karena area kerja BRI paling luas. Kalau lewat kantor cabang, tinggal diteruskan ke bawah dan informasinya langsung menyebar,” ujarnya.

Selain edukasi, BRI juga menghadirkan berbagai program simpanan tematik yang disesuaikan dengan momen tertentu, seperti Ramadan dan akhir tahun. Salah satunya program simpanan berjangka dengan skema tabungan yang menawarkan bunga dan reward.

“Program-program itu sifatnya tematik dan periodik. Contohnya kemarin ada program CUAN, sekarang juga ada lagi dalam bentuk tabungan,” pungkas Said.

Melalui pendekatan edukasi berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi yang aman, BRI Cabang Ambon berharap dapat meningkatkan kesadaran serta kepercayaan masyarakat dalam bertransaksi secara digital. (JB-01)

Pos terkait