Jejakberita. Com, Masohi – Tak seperti biasanya, halaman SDN 234 Maluku Tengah (Malteng) pagi itu tampak ramai. Di bawah rindangnya pohon Ketapang, anak-anak duduk melingkar di atas tikar, mata mereka berbinar menyimak cerita dari buku besar bertema Makanan Khas Maluku. Yang membacakan bukan guru, melainkan Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, Rabu (29/10).

Metode membaca big book ini dikenal secara internasional sebagai cara efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca anak di kelas awal. Namun kegiatan tidak berhenti di situ. Usai membaca, Zulkarnain masuk ke kelas, bergabung dalam pelajaran matematika.
Anak-anak bermain ular tangga untuk mengenal kelipatan angka. Suasana cair dan penuh tawa ketika sang bupati ikut melempar dadu dan menjawab soal kelipatan empat. “Saya ingin anak-anak belajar dengan cara yang menyenangkan, yang membuat mereka berpikir dan berani bertanya,” ujar Zulkarnain.
Ia menegaskan, pendidikan harus menyentuh hati, bukan hanya kepala.
Transformasi pembelajaran di Malteng telah berjalan selama setahun terakhir, menjangkau 47.000 murid di 395 SD dan 45 MI. Tantangan tidak ringan: 95,8 persen wilayah Malteng berupa laut, pulau, dan pegunungan yang membuat distribusi guru tidak merata, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Untuk menjawab kendala itu, Pemkab Malteng menghadirkan akses internet satelit Starlink di sekolah terpencil. Perangkat dan genset disalurkan agar 30 sekolah yang selama ini terisolasi bisa terkoneksi digital sebelum akhir tahun.
Selain infrastruktur, peningkatan kapasitas guru juga jadi prioritas. Melalui Instruksi Bupati Nomor 420/04/INS/2025, setiap guru wajib mengikuti pelatihan mingguan di Kelompok Kerja Guru (KKG). Dampaknya mulai terlihat: nilai literasi siswa naik dari 43,51 (2023) menjadi 47,13 (2024), dan indeks Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan menunjukkan tren positif.
Pemerintah daerah juga telah mengintegrasikan indikator literasi, numerasi, dan karakter ke dalam RPJMD, RKPD, dan Renstra Dinas Pendidikan.
Kepala SDN 234 Malteng, Rugaya Ipaenin, menyebut dukungan pemerintah membantu sekolah keluar dari tantangan literasi. Strateginya antara lain pemetaan kemampuan membaca, pembentukan bengkel literasi, pengadaan media pembelajaran, serta pelatihan rutin guru melalui KKG.
“Capaian literasi dalam Rapor Pendidikan meningkat dari 56,67% (2024) menjadi 80% (2025),” jelasnya.
Pembelajaran Kelas Dunia dari Malteng
Pakar pendidikan dari Lembaga Akreditasi Mandiri Kependidikan (LAMDIK), Anwar Kholil, menilai pendekatan pembelajaran di Malteng sudah sejalan dengan prinsip global.
“Sekolah-sekolah di Maluku Tengah mampu mendesain pembelajaran yang melatih keterampilan abad ke-21. Anak-anak belajar aktif, kolaboratif, dan kontekstual,” ujarnya.
Pendapat senada disampaikan Provincial Manager INOVASI Maluku, Mus Mualim. Menurutnya, perubahan yang dilakukan Zulkarnain memiliki dampak sosial ekonomi jangka panjang.
Ia mengutip riset Hanushek & Woessmann (2012) bahwa peningkatan 10 persen kemampuan membaca dasar dapat mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,3 persen per tahun. Bahkan, studi Lee Crawfurd (2025) menunjukkan peningkatan literasi dan numerasi anak usia 7–12 tahun di Indonesia berkorelasi dengan kenaikan pendapatan saat dewasa sebesar 11 persen.
“Investasi pada keterampilan dasar bukan hanya soal pendidikan, tapi juga masa depan ekonomi daerah,” tegas Mus.
Transformasi pembelajaran di Maluku Tengah kini menjadi inspirasi bagi daerah lain di Maluku. Dari halaman sekolah hingga ruang kelas, anak-anak Malteng belajar dengan cara yang menyenangkan, kontekstual, dan berdaya.
Seperti kata Zulkarnain, “Ketika anak-anak senang belajar, masa depan daerah ini akan bersinar.”
(JB-01)

