
Jb. Com, Jakarta – Bertepatan dengan momen Hari Raya Idul Adha 1446 Hijriah dan Hari Ulang Tahun ke-26, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menyelenggarakan program sedekah kurban di 26 titik wilayah Indonesia, sebagai bentuk rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama, Jumat (6/6/2025).
Program ini melibatkan partisipasi langsung dari seluruh karyawan PNM yang mengonversi aktivitas sosial mereka menjadi bentuk donasi. Sedekah tersebut disalurkan dalam bentuk hewan kurban ke berbagai wilayah dengan keterbatasan akses dan minimnya kontribusi kurban, seperti Ambon, Banyuwangi, Sukabumi, Palopo, Jambi, hingga Pekanbaru.
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi, menyampaikan apresiasi atas antusiasme karyawan yang telah turut ambil bagian dalam program ini. Menurutnya, semangat berbagi harus menjadi identitas PNM dalam setiap langkah pertumbuhannya.
“Kebaikan itu menular. Semangat berbagi yang ditunjukkan karyawan PNM adalah bentuk nyata rasa syukur atas apa yang telah kami capai selama 26 tahun. Kami ingin kebermanfaatan PNM dirasakan langsung oleh masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah yang jarang tersentuh bantuan,” ujar Arief dalam keterangan resmi kepada media ini
Salah satu lokasi penyaluran kurban adalah di Provinsi Maluku, tepatnya di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah.
Di sana, kurban disalurkan kepada nasabah PNM Mekaar, termasuk Ibu Satia yang merasa sangat bersyukur atas bantuan tersebut.
“Alhamdulillah, saya dan keluarga sangat bersyukur menerima daging kurban dari PNM. Semoga menjadi berkah kepada saya dan keluarga dan PNM semakin jaya,” tutur Satia.
Program ini tidak hanya menjadi bagian dari perayaan ulang tahun, tetapi juga simbol komitmen PNM untuk terus tumbuh bersama masyarakat. Lewat aksi nyata, PNM berharap dapat menanamkan nilai kepedulian dan memperkuat hubungan emosional antara perusahaan dan penerima manfaat, khususnya di daerah yang membutuhkan.
PNM terus memperluas jangkauan layanan dan dampaknya, terutama melalui program Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera), yang selama ini menjadi ujung tombak pemberdayaan perempuan prasejahtera di Indonesia. (JB-01)






